Senin, 07 Juli 2014

Saya besar dan dilahirkan di banyumas 26 tahun silam, terletak di timur pusat kota kecamatan banyumas kurang lebih 15 km tepatnya di desa piasa kulon .Sekarang saya tinggal dan bekerja di Jogjakarta. Jogja banyak dikenal orang sebagai kota budaya dan pelajar. semenjak tinggal di jogjakarta saya selalu ingat akan kota kecil kelahiran yaitu Banyumas. Banyak bukti sejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini di kecamatan banyumas. Salah satunya yaitu masjid agung nur sulaiman banyumas. saya kali ini akan coba membahas tentang sejarah berdirinya masjid agung nur sulaiman banyumas.

1. Masjid Agung Nur Sulaiman

SEJARAH
Proses sejarah pembangunan Masjid Agung tidak terpisahkan dengan Joko Kaiman selaku bupati pertama kabupaten banyumas. Belum ada catatan yang pasti mengenai sejarah berdirinya Masjid Agung Banyumas ini, namun setidaknya hampir bersamaan dengan Pembuatan Pendopo "Bale Sipanji". berdasarkan catatan sejarah yang di tulis oleh para pakar menyebutkan angka tahun 1755 yang merupakan awal pembangunan pendopo dan sebelum tragedi banjir besar yang melanda banyumas Bulan februari 1861. menurut pak Pujadi yang di temui setelah sholat ashar menyebutkan pembangunan masjid atau lebih tepatnya mulai digunakan sekitar tahun 1816. Dengan di pimpin oleh 2 orang sahabat yairu Mbah Nur Daiman yang merupakan tukang atau lebih kerennya arsitek pada jaman itu dan Mbah Sulaiman yang memimpin pembangunan masjid dan merupakan kyai atau penghulu. dari dua orang tokoh tersebut muncullah nama Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas yaitu NUR sebagai Arsitek dan SULAIMAN sebagai Penghulu Masjid yang pertama (imam) Kyai yang menyebarkan agama islam di daerah kabupaten dan sekitarnya.
LOKASI dan Sarana Transportasi
Secara administratif, Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas terletak di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah utara Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas dengan jalan Sekolahan, di sebelah timur berbatasan dengan alun-alun Banyumas, di sebelah selatan berbatasan dengan jalan Serayu, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan jalan Kulon. Sebagaimana di lokasi Masjid Agung lainnya, masyarakat setempat menyebut lokasi perkampungan disekeliling masjid Agung Banyumas dengan nama Kampung Kauman. Namun nama Kauman secara administratif tidak tercatat pada buku pembagian wilayah di Kelurahan Sudagaran. Adapun secara geografis, masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas terletak pada 7o30’7” BT dan 109o15’10” LU.
Untuk menuju Lokasi Masjid Agung Banyumas sangat mudah, Bisa di akses dengan berbagai kendaraan. Dari Kota Purwokerto, melalui terminal purwokerto bisa menggunakan Bis/Mikro yang menuju Banjarnegara, jogja ataupun cilacap. Karena lokasi di Pinggir jalan besar sehingga mudah di akses. jika anda pernah ke alun-alun banyumas maka itu sebelah barat akan terlihat Masjid Agung yang kokoh dan indah. untuk pengendara mobil pribadi atau sepeda motor sangat mudah untuk menuju ke lokasinya, karena di lalui jalan raya banyumas.

WISATA RELIGI dan AURA SPIRIT
Dalam direktori pariwisata banyumas, nama Masjid Agung Nur Sulaiman merupakan obyek wisata religi dan sejarah yang sangat di rekomendasikan. banyak pelajaran-pelajaran sejarah, terutama perkembangan pemerintahan dan agama islam di kabupaten banyumas. serta banyak peziarah dari berbagai kota untuk beribadah dan berdoa di Masjid Agung Nur Sulaiman yang masih terasa keramatnya.
Lanjut ceritanya dari Pak Pujadi yang merupakan warga sekitar masjid dan ikut dalam sumbangsih pembangunan masjid ini, mengatakan banyak berbagai pelajar atau mahasiswa yang telah melakukan riset sejarah dan juga arsitektur mengenai Masjid Agung Nur Sulaiman, bagi para spiritual masjid ini sangat di rekomendasikan untuk menggali lebih dalam ilmu-ilmu Alloh swt, serta bagi beberapa orang yang percaya, merupakan lokasi adanya sumber. bagi yang pernah melakukan ritual adus pitung sumber salah duanya ya disini. yaitu sumur tua di sebelah utara tempat wudhu pria dan sebelah selatan yang airnya lebih bening sebagai tempat wudhu wanita.
Pengalaman saya sendiri memasuki area masjid sudah sangat terasa aura positifnya, begitu mengambil air wudhu di terasa dinging dan sejuk tatkala berwudhu menggunakan air yang dipercaya bisa membawa berkah dengan izin Alloh. kemudian setelah masuk ke Ruangan utama terasa begitu damai, tenang. aura spiritual sangat kuat terasa. Sholat yang merupakan ritual kita sebagai umat islam ketika di sana sungguh sangat luar biasa. terasa lebih nyaman dan tenang.
ARSITEKTUR dan NILAI SENI
Secara umum arsitektur Masjid Agung Nur Sulaiman mengambil khasanah budaya loka dan beberapa mengambil ornamen dari manca negara. Pak Pujadi yang dengan setia menemani saya saat berkunjung di masji agung ini menyatakan bahwa Masjid ini sangat luar biasa, baik dari segi arsitektur maupun tata seni, tutur Pensiunan Guru Sekolah Teknik yang sekarang mempunyai 4 cucu ini. Beliau pun juga ikut dalam pengembangan masjid ini karena memang bidangnya di teknik, manual gambar saat pemugaran yang terakhir juga pak pujadi yang membuat.
Tampak dari Gerbang depan
Atap mesjid ini berbentuk tajug bersusun tiga, paling bawah disebut penitih, tengah disebut pananggap dan puncaknya berbentuk piramidal brunjung dihias dengan mustaka. Pada celah antara dua atap bertumpuk terdapat celah sehingga cahaya alami dapat masuk. Menurut pandangan, atap berbentuk tajug tidak sesuai untuk rumah duniawi, namum khusus digunakan untuk candi, masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya. Karena atap tumpang yang berundak itu adalah hasil kesenian Indonesia sendiri, yang berupa bangunan meru, dimana pada bangunan jaman sebelum Islam hal itu telah banyak ditemui dan berfungsi sebagai bangunan suci (GF. Pijper, 1987:275). Sekalipun atap rumah di Indonesia, khususnya di Jawa tidak bertingkat, tetapi sesuatu dasar untuk dijadikan atap bertingkat telah ada ialah atap yang berbentuk joglo (Sucipto Wiryosuparto, 1962: 153).
Keunikan yang ada Masjid Nur Sulaiman adalah ruang mihrabnya mempunyai atap sendiri. Atap tersebut berupa tajug bersusun dua, dan dilengkapi dengan mustaka berbentuk mirip gada. Atap mihrab yang terpisah dengan atap ruang utama masjid tampaknya menjadi prototipe bagi masjid-masjid yang lebih muda di wilayah Banyumas. Hal ini dapat dijumpai antara lain pada masjid kuno di komplek makam para Bupati Banyumas di desa Dawuhan, Banyumas. Ini berbeda denagn masjid-masjid Agung Islam kuno pada umumnya yang atap mihrabnya menjadi satu dengan ruang utama, misalnya Masjid Agung di Demak, Kudus, Yogyakarta ataupun Surakarta.
Dilihat dari jumlah atap masjid ini terdiri dari tiga organisasi ruang, yaitu : Serambi, Ruang utama dan mihrab. Pada Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas tidak terdapat kolam di depan atau sekeliling bangunan masjid seperti yang terdapat pada masjid Jawa kuno, namun terdapat bangunan fasilitas yaitu tempat wudlu bagi pria dan wanita. Disamping itu terdapat beberapa bangunan baru yaitu kantor KUA, kanor BKM dan kantor Penilik Pendidikan Islam.
Serambi sebagai salah satu komponen masjid kuno berdiri di depan ruang utama. Serambi yang berukuran 11 x 22 m ini sekarang berfungsi sebagai tambahan tempat sholat, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an dan pelajaran agama lainnya. Pada bagian depan serambi terdapat emperan yang atapnya merupakan perpanjangan dari atap serambi. Lantai serambi ditinggikan 130 cm dari permukaan halaman masjid. Menurut keterangan pengurus BKM permukaan lantai serambi ini dahulu berupa plesteran saja. Akan tetapi pada perbaikan yang dilakukan pada tahun 1929 lantai serambi ditutup tegel berukuran 20 x 20 cm. Tegel serambi disusun sebagi berikut: bagian pinggir ditutup tegel abu-abu, sedang bagian tengah ditutup tegel warna-warni bermotif geometrik dan bunga yang disusun menurut pola tertentu. Ruang serambi ini mempunyai dinding di sisi utara dan selatan, sisi timur terbuka, sedang sisi barat terdapat dinding pembatas antara serambi dan ruang utama. Dinding sisi utara dan selatan masing-masing mempunyai dua pintu yang ambang atasnya berbentuk lengkung. Kedua pintu itu mengapit satu jendela berbentuk segi empat. 
  
sisi samping masjid, gabungan arsitektural Belanda – Jawa

Situasi serambi masjid
Ruang utama Masjid Agung Nur Sulaiman Banyumas berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22 x 22 m dengan ketinggian 14,5 m. Lantainya lebih tinggi 20 cm dari lantai serambi. Ruang ini berfungsi sebagai ruang pokok pada waktu berjamaah. Untuk masuk kedalam ruang utama ada tiga pintu, pintu tengah berukuran tinggi 230 cm lebar 192 cm, sedang dua pintu yang mengapitnya berukuran tinggi 230 cm dan lebar 129 cm. Berdasarkan ukuranyan pintu tengah merupakan pintu utama yang hanya dibuka pada hari Jumat. Lantai ruang utama ditutup dengan tegel abu-abu ukuran 20 x 20 cm dikombinasi dengan tegel kembang warna-warni serta tegel warna polos ukuran 20 x 20 cm. Sebagi contoh lantai bagian pinggir ditutup dengan deretan tegel kembang bermotif geomtris, lantai sisi timur ditutup dengan tegel warna aba-abu dan krwem yang disusun selang-seling membentuk motif papan catur, bagian tengah ditutup dengan tegel berwarna dasar krem dan bermotif flora.
Di dalam ruang utama terdapat empat saka guru dan dua belas saka pengarak. Tiang-tiang tersebut dibuat dari kayu jati dan masing-masing dilandasi oleh umpak batu. Ke- 16 umpak yang ada di ruang utama berbentuk motif molding, tetapi umpak saka guru berukuran lebih besar yakni sisi-sisinya berukuran 75 cm, tingginya 56 cm. Sehingga terlihat perpaduan antara gaya barat dengan lokal. Kemungkinan konstruksi bangunan ini menggunakan sistem tajug Mangkurat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya 4 umpak yang lebih besar ukurannya dari pada umpak-umpak yang lain. berbeda dengan Masjid Agung Yogyakarta yang menggunakan sistem tajug Ceblokan.Gambar umpak berbentuk motif molding Mihrab, adalah pintu simbolis, berdiri bersudut siku-siku pada arah Kabah di Mekah merupakan kemahasucian dari masjid. Mihrab menunjuk jurusan spiritual ke arah Mekah. Menurut Frick (1997 : 52), Mihrab menunjuk kepada dunia diluar batas pengetahuan kita, suatu penglihatan mistis-teologis. Seperti telah disebutkan di atas bahwa ruang mihrab pada masjid ini mempunyai atap terpisah yang berbentuk atap tumpang bertingkat dua. Oleh karena itu, dalam hal ini ruang mihrab yang menjorok ke barat itu dipandang sebagai komponen ruang tersendiri pada masjid yang bersangkutan. Ruang mihrab tersebut berukuran lebar 220 cm, panjang 400 cm, tinggi 590 cm. Puncak atap ditutup oleh mustaka yang berbentuk menyerupai gada.

serambi masjid



tegel dari era kolonial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar